Buat kamu yang belum tahu siapa itu Riza, coba silakan tonton beberapa video berikut ini:
Bagaimana? Sangat menakjubkan bukan? Inilah bukti bahwa bangsa kita,
bangsa Indonesia tercinta, memiliki sisi kreativitas yang sangat unik
dan identik. Luar biasa, biasa di luar.
Untuk mengapresiasi karya-karya yang sudah dibuat oleh sang seniman
YouTube kita yang satu ini, maka kami segenap jajaran redaksi nyunyu.com
melakukan sebuah rapat intern dadakan tiba-tiba, yang hasilnya adalah
terciptanya tulisan ini. Sebuah pembahasan khusus tentang Riza Alvavan,
sang maestro YouTube asal Indonesia.
Dari sekian banyak karya-karya yang sudah diunggahnya di kanal YouTube,
kami sudah memilih satu karyanya yang menurut kami sangat
menginspirasi, yaitu video yang berjudul “Kediri Death Metal”.
Sebuah video yang menampilkan keahlian Riza bermain gitar dan
bernyanyi. Video yang satu ini akan ditelaah secara mendalam menggunakan
teori komunikasi massa yang sudah dipelajari penulis selama mengenyam
pendidikan di bangku perguruan tinggi, setinggi
pu’un mangga
pa aji.
Dalam sebuah karya seni sudah tentu terkandung banyak pesan-pesan
non-verbal yang coba disampaikan sang pembuat karya. Kita bisa tahu
bahwa Ahmad Dani sedang
horny ketika menciptakan lagu “Aku
Sedang Ingin Bercinta” lewat pilihan kata-kata yang digunakan pada lirik
lagu tersebut. Kita juga bisa tahu bahwa seorang Farhat A*bas adalah
antek-antek Amerika dan penyebar kedaulatan
freemason lewat jaket U.S.A. yang digunakannya dalam video Sumpah Pocong yang dibuatnya. (
ngomong apaan sih, mas?)
Mari kita mulai di bagian pembuka. Di awal video, kita bisa sama-sama
melihat bahwasanya dari sisi interior kamar, Riza dengan cermat
meletakkan beberapa benda yang berbentuk persegi di sudut-sudut ruangan.
Ini sangat brilian. Dari sini kita bisa tahu bahwa Riza adalah pemuja
arsitektur minimalis, sebuah gaya seni yang sangat berbudaya tinggi dan
hanya digunakan oleh orang-orang intelek. Luar biasa, biasa di luar.
Memang seniman kita yang satu ini bukan sembarang seniman.
Lanjut. Secara jelas dapat kita tangkap dengan mata telanjang kita
bahwa dalam video tersebut Riza tidak menggunakan pakaian, alias
bertelanjang dada. Mengapa Riza bertelanjang dada? Padahal badannya
tidak bagus bahkan cenderung tidak terurus? Jawabannya ada di judul
video.
Dari judul video yang menyertakan kata “Death Metal”, kita bisa menarik
kesimpulan mengapa Riza tidak pakai baju. Anak metal adalah anak yang
tidak suka aturan. Berangkat dari kultur pemberontakan itulah Riza
mengaplikasikan nilai-nilai metal dalam kehidupan sehari-harinya. Kalau
orang-orang biasa memilih pakai baju, Riza tidak. Riza memilih untuk
tidak memakai baju sebagai
counter culture kebiasaan umum di masyarakat. Riza menanamkan setiap nilai dalam ke-‘
death metal’-an yang dianutnya sampai ke kehidupan sehari-hari. Luar biasa, biasa di luar. Sungguh seniman yang berdedikasi kepada
passion. Idealis, dan sekali lagi, bukan seniman sembarangan.
Di video ini juga terlihat Riza tidak sembarangan asal memainkan gitar
dan bernyanyi. Tetapi, Riza melakukannya dengan penghayatan sepenuh
hati. Kalau tidak percaya, lihat saja bagaimana ekspresi wajahnya:
Benar-benar ekspresi wajah yang natural, tidak dibuat-buat, dan murni datangnya dari dalam jiwa. Benar-benar seniman sejati.
Kemudian mari kita lihat caranya memegang gitar. Di video dengan jelas
kita bisa melihat cara memegang gitar sang maestro. Beliau memegang
gitar dengan gaya
casual, yaitu gaya ibu jari atau jempol yang
memegang atas leher gitar. Gaya yang sama dengan gitaris-gitaris ternama
dunia seperti Joe Satriani dan Paul Gilbert. Ini menandakan bahwa dia
bukan gitaris sembarangan, tetapi gitaris yang juga
digging terhadap
passion yang dijalaninya. Coba lihat perbandingan cara memegang gitar berikut ini:
Nah, sama kan cara megang gitarnya? Bahkan teknik
typing-nya
pun mirip. Apa lagi yang kalian bisa tangkap dari tiga gambar di atas?
Yup! Ketiganya sama-sama menggunakan gitar warna putih. Bayangkan!
Seorang Riza Alvavan ternyata
influence-nya adalah Joe Satriani
dan Paul Gilbert, dua gitaris legenda hidup dunia. Sekali lagi mari
kita bilang, luar biasa, biasa di luar.
Kemudian, coba kamu lihat cara duduk sambil memegang gitar pada gambar di bawah:
(sumber gambar: learnplayguitar.net)
Dengan melihat perbandingan gaya duduk sambil memegang gitar di atas.
Lagi-lagi kita bisa mengetahui bahwa Riza Alvavan adalah pemuja gaya
casual. Selain cara memegang gitarnya, gaya duduknya pun
casual. Karena
sama-sama kita tahu, dia menempatkan gitar di paha kanannya, bukan di
paha kiri. Benar kan analisa kami, kalo dia itu gak sembarangan. Segala
sesuatunya dipikirkan dengan matang.
Udah ah, udah kebanyakan nih kayanya ngebahas doi. Yang pasti, menurut
kami, seorang Riza Alvavan itu berhati mulia. Dia hanya ingin menghibur
kita semua, dan berbagi pengalamannya dengan ilmu-ilmu yang dia punya
(walaupun dia mengaku kalau dia tidak tahu apa-apa). Salah satunya
tersaji dalam video yang ini
Riza membuktikan sekaligus ‘menampar’ mereka yang berilmu tinggi tapi
tidak mau berbagi. Riza menyadarkan bahwa ilmu bisa didapat di mana
saja, bakat bisa ditempa, dan bila gerah baju bisa dibuka.
Nah, kalo kamu mau liat semua video-video karyanya Riza Alvavan. Tenang, ada banyak videonya. Kamu bisa langsung klik
di sini.
Okeh! Sekian dulu dari kami mengenai Riza Alvavan. Semoga ada lagi
Riza-Riza berikutnya yang menghasilkan karya yang tidak kalah dengan
Riza yang satu ini. Mungkin kamu salah satunya?